Perlahan Menuju Klimaks, Catatan Hari Ketiga Gigs Fest 2019

[HujanMusik!], Bogor – Hari ketiga adalah yang terakhir dari rangkaian festival ini. Sejak kelar jam makan siang sekitar 13 band papan tengah dari Bogor dan sekitarnya dipersilahkan unjuk gigi hingga maghrib menjelang. Sesi itu diisi oleh band-band seperti Svummerboys, Scarabius, Antartick, Brocut HC, STB Project, AKBP Project, Weft, ASS, Rooster Fight, Raw Tunes, SPRM, The Dramma dan Discri Discri.
Saya masuk venue saat Scarabius sedang menguasai panggung. Musiknya kencang menderu-deru dengan harmonisasi di sana-sini, khas band At The Gates dan The Black Dahlia Murder yang memutar melodic death metal. Kuintet ini punya tema lirik yang nyrempet ke masalah sosial-politik dan kritis pada pemerintah.
Setelah Scarabius, naiklah Antartick ke mimbar. Ini band Bogor yang punya jam terbang lumayan. Mereka mainin lagu-lagu rock-arena dengan bagus. Tak heran kalau vokalis band Monkey to Millionare Wisnu Adji mau bergabung di single “Kebas” pada 2017 lalu. Semangat kolaborasi itu terus mereka genjot dengan mengajak solois sekaligus vokalis band Hujan Noh Salleh dari Malaysia untuk single “Hujan” yang rilis Mei 2019.
Simak! : Tetesan Hujan Antartick dan Noh Salleh Yang Menyerap di Keabadian
Line-up medioker hari ini turut menampilkan band-band tetangga kota Bogor. Diantaranya adalah unit pengusung hardcore-punk dari Anyer bernama Brocut HC dan kolektif ska-punk dari Serang Discri Discri. Brocut HC meminkan lagu-lagu cepat bertenaga dari album rilisan perdana tahun 2017 “Generasi Terdegradasi”. Discri Discri lumayan sukses mengarak crowds bergoyang ska dengan lagu-lagu “Pesta”, “Bersatu di Kota Serang”, dan “Kita Tetap Sama”.
Discri Discri menutup sesi siang sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang.
Sesi malam terasa lebih padat dari sesi sebelumnya. Duo lelaki pembawa acara mengumumkan dua band medioker lainnya sepelum penampil puncak. Dua band itu adalah Vikri and My Magic Friend dan Sydera.
Adalah artis multi-talenta Vikri Rahmat yang mengkomandoi band Vikri and My Magic Friend. Vikri membawa bandnya mengarungi arus musik pop dengan ambience reggae yang ringan. Penampilan panggungnya membawakan sebagian besar materi lagu dari album “Sederhana” yang rileks beberapa bulan lalu. Setlist-nya adalah lagu-lagu catchy di kuping. Sekali dengar langsung nempel. Ritme lagunya berhasil membikin crowds yang santai duduk-duduk di pinggir lapangan ikut malu-malu menggoyang-goyangkan kepala. Lima-enam lagu mereka bawakan dengan baik.
Vikri permit mundur. Penggantinya adalah Sydera. Kuartet dengan vokalis cewek ini memainkan energetic rock ala band manca negara Paramore. Vokalis Sydera Verristie memang punya stamina kuda saat berlarian kesana-kemari di atas panggung sambil melengkingkan lagu-lagu rock dinamis. Sesekali Ve, demikian ia biasa disapa, melipir ke bibir panggung untuk ajak crowds sing along dan melompat-lompat. Usahanya ini terbilang sukses. Crowds barisan depan selalu menyambut ajakannya.
Sydera, yang konon adalah kependekan dari Super Young Dangerous Energetic Rockstar in Action, adalah salad satu band sukses besutan Bahaya Records Bandung yang punya enam buah single. Mereka memainkan beberapa diantaranya, termasuk “Rainbow” yang jadi single terbarunya.
Sal dan Danilla Membius
Jelang penampilan Sal Priadi kerumunan penonton terlihat makin padat. Pelan-pelan mereka beringsut mendekat ke depan panggung, tepat di garis batas pagar besi. Lelaki dan perempuan berdiri dengan tertib, tak berdesakan dan cukup ada ruang untuk bernafas lega.
Saat Cak Sal, sapaan yang saya pilih untuk Sal Priadi, setengah berlari ke tengah panggung, crowds langsung ribut. Tanpa basa-basi lagu-lagu kalem mengalun dari kerongkongannya. Peran band pengiring dan backing vocal-nya bikin penampilan tambah syahdu. Semua repertoarnya bertema cinta dan kepedihan, yang ditulis ke dalam lirik puitis, dan diaransemen dengan musik megah.
Yang paling menarik perhatian adalah keluwesan bahasa tubuh dan jokes-nya di atas panggung. Semuanya terasa segar tanpa dipaksakan harus menjadi lucu. Sungguh Cak Sal berbakat jadi entertainer tulen, bekal raja panggung.
Meski belum punya album, Cak Sal dengan enteng merapal “Ikat Aku Di Tulang Belikatmu”, Melebur Semesta”, “Jangan Bertengkar Lagi Ya? OK? OK!” dan seketika disambut koor massal crowds di bawah. Untuk membawakan lagu “Amin Paling Serius”, Cak Sal mengajak duet vokalis band Svummerdose Rinrin dan gitaris sekaligus produser lagu ini Lafa Pratomo. Belum lama ini lagu tersebut tercatat masuk dalam Chart Global Viral 50 milik platform penyedia musik daring Spotify. Konon sampai sejauh ini hampir lima juta pemilik akun Spotify mendengarkannya.
Penampilan Cak Sal ditutup dengan ajakannya kepada crowds untuk teriak memaki para pendusta di lagu “Kultusan”. Yang terjadi adalah koor lengkingan sumpah serapah membahana saat chorus lagu dinyanyikan.
Cak Sal dan kolektifnya turun panggung saat crowds di bawah makin merangsek ke muka. Mereka ingin Danilla, line-up terakhir festival ini.
Menonton Danilla secara langsung adalah kesempatan kedua bagi saya. Yang pertama cuma dari kerumunan penonton. Kali ini kemewahan sedang berpihak karena ID Card media dari panitia. Sebagai utusan Hujanmusik!, saya naik ke panggung dan diberi tempat di sisi kanan.
Sejujurnya saya tidak begitu mengingat dengan lagu apa Danilla membuka pertunjukannya. Yang jelas ia masuk panggung dengan baju atas tertutup jaket gins dan bawahan rok hitam panjang berbelahan samping. Setelah menyambar microphone, ia bernyanyi dengan jemari tangannya yang sibuk memencet-mencet papan kibor synthesizer. Repertoar panggungnya mengalir rapi dari rilisan album“Telisik” (2014) dan “Lintasan Waktu” (2017).
Jemarinya tak cuma mahir di atas tuts, Jemari Danilla juga dididik jago main gitar elektrik maupun akustik. Jemari yang sama kadangkala terlihat menjepit rokok putih bila tak sibuk bermain alat musik. Cuek saja dia merokok sambil menyanyi riang.
Buatnya, Bogor adalah pengalaman menyenangkan. Sudah beberapa kesempatan ia dan band-nya jadi headliner festival di kota ini.
“Ke Bogor itu rasanya seperti pulang ke rumah,” akunya di atas panggung malam itu.
Selama hampir sejam Danilla mengaduk-aduk emosi crowds yang menggila terkontrol di bawah sana. Penampilannya ditutup dengan lagu “Ini Dan Itu” yang berkisah tentang peran manusia di tengah pusaran isu sosial-lingkungan akhir-akhir ini.
Turunnya Danilla dari panggung diikuti dengan naiknya duo pembawa acara. Mereka umumkan bahwa festival telah usai. Sementara di sudut kiri panggung tampak barisan panjang orang-orang pendaftar sesi photo berbayar bersama Danilla.
Pesta Sudah Usai
Setelah panggung gelap, kru peralatan musik dan sound system adalah orang tersibuk berikutnya. Semua aliran listrik dicabut, kabel-kabel digulung, perkakas berat dimasukkan kembali dalam kotak dan perabot-perabot dikembalikan pada keadaan semula. Mereka yang dibawah panggung, pemilik tenant dan penyewa booth, juga tak kalah sibuk membongkar. Waktunya untuk pulang
Bagi promotor, inilah waktunya untuk berhitung matematis. Menguji hitungan antara perkiraan dan kenyataan.
Memang, sekarang ini pergi ke festival sudah menjadi gaya hidup. Banyak orang datang berbondong-bondong. Promotor perlu melihat hal ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Karena menurut Ravel Junardy, yang memimpin Revision Live Entertainment menghelat Hammersonic festival selama tujuh tahun berturut-turut, cuma ada dua tipe orang di dunia festival. Mereka yang mau cari untung dan yang cuma ingin bersenang-senang. Kalau mau cari untung, jual-lah festival yang mainstream dengan produk disuka pasar. Kalau mau bersenang-senang, janganlah berharap untung.
Bagi saya, memasang Killing Me Inside, Kunto Aji, Pamungkas, Feel Koplo, Sal Priadi dan Danilla sebagai headliners rasanya adalah strategi jitu mengkapitalisasi pasar pop generasi milennial. Sementara menampilkan puluhan band medioker dari Bogor dan sekitarnya adalah cara bersenang-senang yang cukup asyik.
Di atas semua itu marilah kita mensukuri kemerdekaan RI ini. Tanpanya, kita tak mungkin menikmati kebebasan gigs dalam festival yang seru.

Moderasi Panggung Post Punk DISKOTEQ

[HujanMusik!], Bogor – Cahaya seputaran halaman parkir Stadion Pajajaran tengah menuju muram. Petang dengan sisa langit basah yang masih segar membekas. Hujan sekejap dengan intensitas rapat menggiring badan ini untuk menepi pada kedai combi. Ditemani kolega dan segelas teh panas hangat dengan pemanis gula batu, kami menikmati suasana petang meski panggung musik tampaknya sedang berjibaku memastikan tampias hujan tidak mengganggu acara. Petang itu saya sedang berada diantara keriuhan pengunjung, booth tenant, panggung dan musisi-musisi pengisi acara hari pertama rangkaian Gigs Fest 2019, 16 Agustus 2019.
Sekelumit rundown lebih menarik perhatian, mengimbangi suara mezzo menuju sopran pembawa acara yang terdengar pekak. Nanar mata ini menemukan nama kolektif post-punk anyar yang tengah hit-hit-nya menyambangi panggung musik Bogor – Jakarta, DISKOTEQ. Terus terang meski mengenal sebagian besar personilnya, pertunjukan kali ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan penampilan meraka. Beberapa penampilan independen mereka selalu terlewatkan atas nama kesibukan.
Bahkan undangan untuk terlibat mendukung dan menyaksikan rangkaian tur mereka saya iyakan dalam keadaan badan sedang tidak ditempat. Juli hingga Agustus lalu mereka telah menggelar tur konser berdikari bertajuk “Grayscale Tour” di Jabodetabek. “Grayscale Tour” berjalan dengan menyambangi enam titik dimulai dari Bogor (14 Juli), Bekasi (19 Juli), Jakarta (20 Juli), Tangerang (21 Juli), Cileungsi (27 Juli), dan berakhir kembali di Bogor (4 Agustus). Tur ini dijalankan dalam rangka memperkenalkan album pendek perdana bertajuk “Grayscale”.
Sepertinya DISKOTEQ hendak mempertontonkan mederasi post-punk lokal Bogor setelah panggung banyak dimanjakan sound berkarakter The Safari dan Pink Glove. Musik mereka terdiri dari notasi ketukan dansa yang bergumul dengan agresivitas punk rock. Diskoteq terdiri dari Bayu Ramadhan Dwi Azni (vokal), Melly Aprianty (gitar), Dhani Ramdhani (bas/vokal), Ahmad Fauzan (synthesizer), dan Prayoga Setiawan (drum). Mereka berikrar dalam satu kolektif DISKOTEQ sejak 2018 dengan formulasi musik rujukan seperti Gang of Four, Public Image Ltd, Grup Pop, Wire, The Rapture, Au Pairs, NWA, hingga Wu-tang Clan.
Sebelum merilis Grayscale secara utuh, DISKOTEQ pertama kali memperkenalkan identitas musiknya lewat single bertajuk “Graph”. Lagu berdurasi genap satu menit ini diunggah di laman Instagram @diskoteq_ dan mendapat banyak sambutan positif.
“Dari suasana musik, kebetulan memang kami senang dengan lagu-lagu seperti “White Mice” dari Mo-Dettes, “Available” dari Moving Units, “Out of the Races and onto the Tracks” dari The Rapture, sampai “To Hell with Proverty” dari Gang of Four. Sisanya, masing-masing dari kami ketika itu lagi dengar lagu apa, kita masukkan saja,” tulis vokalis Bayu dalam rilisnya kepada Hujanmusik! Beberapa waktu lalu.
Dari bawah panggung, set list operator sound terlihat Deni Noviandi dan Abah Patti Nanbo yang tengah bersiap. Sementara lighting panggung sengaja diburamkan sembari menunggu personil band tuntas bersiap diri. Dari kejauhan postur tinggi menjulang pemain bas Dhani Ramdhani (The Kuda, Pink Glove, The Luxitania), didepannya ada vokalis Bayu Azni. Sementara Melly Aprianty (Pink Glove, Sex Sux) memilih stand by disisi kiri panggung. Saya mengenal Dhani a.k.a Ahonk sebagai pemain drum untuk The Kuda dan gitar di The Luxitania. Sedangkan Bayu untuk beberapa saat menjadi rekan belajar dan terhubung karena pekerjaan membuat website. Sementara Melly, saya mengenalnya sebagai ruh gitar untuk post-punk pink glove dan indie pop Sex Sux. Bisa jadi, perjumpaan post-punk Melly dan Dhani adalah kali kedua setelah sebelumnya dalam posisi yang sama untuk Pink Glove.
Memulai pertunjukannya dengan datar tanpa basa-basi, DISKOTEQ perlahan langsung ramai begitu notasi musik mereka terjalin utuh. Vokalis Bayu Azni seperti remaja kelebihan bahan bakar yang bergerak kesana-kemari. Seturut dengan hentakan drum Prayoga yang padat dan konstan. Namun yang menarik perhatian saya justru pemain synthesizer Ahmad Fauzan, perangkat padat didepannya tak menghalangi daya jelajah musisi muda yang juga bergiat seni visual itu. Bahkan agitasi massa terdorong karena propaganda dansa yang disuarakannya. Berbeda dengan Melly dan Dhani yang cenderung aman diposisinya.
Begitulah, pada akhirnya DISKOTEQ mampu memberikan tontonan post-punk yang merepresentasikan semangat mereka. Bukan tak mungkin suatu saat akan ada panduan visual menikmati dancepunk DISKOTEQ.

Rock In Rain Feat Edgar Tauhid Kita Indonesia

Bertepatan di Hari Kemerdekan Republik Indonesia yang ke-74, Rock In Rain merilis music video yang berjudul "Kita Indonesia". Project ini melibatkan personil yang ada di Album Kompilasi KolaBOGORasi dan juga rapper Edgar Tauhid. Nantinya single ini juga bisa didengarkan di Gerai Digital seperti : Spotify, Joox dan Apple Store. Mereka berharap di single terbaru mereka yang berjudul "Kita Indonesia" bisa membangkitkan keutuhan dan keberagaman dalam segala hal di tanah air Indonesia.

Salam #KITAINDONESIA

#HUTRI74 #INDONESIA

-----------------

"Kita Indonesia" off of the new Kita Indonesia - Single out now!

Buy Kita Indonesia Single on iTunes: https://goo.gl/R95pQR
Listen to "Kita Indonesia" by Rock In Rain on Spotify: https://goo.gl/41ePir

-----------------

Join us our networks
facebook.com/rockinrain2018
twitter.com/rockinrain2018
soundcloud.com/rockinrain2018
instagram.com/rockinraindotcom

For booking/sales info:
Prayoga Setiawan (+62) 852 00000529
rockinrain2018@gmail.com

Produced by Rock In Rain
All Tracks Recorded at The Black Machine Studio, Ciawi, Bogor, West Java.
Except Vocal Tracks at Bens 'n Co Records, Bogor, West Java.
Engineered by Yagi Wiraya
Mixed & Mastered by Yagi Wiraya
Guitar, Piano & Synth by Yagi Wiraya
Vocal by Ryan Regiatna (Outstep), Iwan Cakrayana & Zulfikar Iqbal (Hidden Message), Yagi Wiraya & Irvan Bastian (Topi Jerami), Higin Irfan Ayuga (Lepas Landas), Zhury Nugroho (Trytowakeup), Galuh Dwi Prasetyo & Dandi Angguari (The Luxitania), Moha, Fahrizal & Prayoga Setiawan (The Power Puff Boyz), John Abdullah (Mary Ann), Priandra Nur Akbar (MFWD).


BONETLESS MENGELUARKAN LAGU BARU

Baru ...
Lahir di kota hujan seorang pria yang memiliki prinsip Belajar Bekerja dan Berkarya
ya ... tepat dia Bonetless yang bisa disebut Dedengkot dari Band Punk Kota Hujan Superiots
yang dari sejak awal mula bermusik tidak pernah berhenti untuk menciptakan karya karya yang mayoritas berasal dari pengalaman peribadinya

Oke Kali ini kita Bahas Lagu Barunya Bonetless yang berjudul Jerih Payah
Kalo bisa di bilang sih lagu ini bukan lagu baru karena termasuk salah satu single yang ada di album pertamanya Bonetless yang bertajuk Senja dan Paras Tanpa Mahkota yang sudah di arransement ulang dan di daur ulang dan hasilnya beda banget asli sumpah pertama gw dengernya juga beuh parah mantep asli lu wajib denger pokonya lagu yang dulunya dinyanyikan versi akustiknya sekarang dinyanyiin versi Full Band buat lu yang penasaran langsung aja Cek .....

Perlahan Menuju Klimaks, Catatan Hari Ketiga Gigs Fest 2019

[HujanMusik!], Bogor –  Hari ketiga adalah yang terakhir dari rangkaian festival ini. Sejak kelar jam makan siang sekitar 13 band papan ten...